RagaM iNFo

could be u need

  • October 2006
    M T W T F S S
    « Sep   Nov »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • Visiting here

    • 9,106 hits
  • Flickr Photos

    Fast-flying Falcon

    sunset and fishing nets

    Force of Life - Pushing Boundaries I

    Northern Channel || Bombo

    Cascades in the Narrows of Zion

    Glencoe // Scotland // Landscape

    Still life

    More Photos

..attention please…

Posted by ommie on October 3, 2006

HIBURAN BAGI ORANG YANG TERKENA MUSIBAH (PENYAKIT)

Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan Sunnatullah, dalam kehidupan manusia akan diuji dalam segala sesuatu, dalam hal-hal yang disenanginya dan disukainya maupun dalam hal-hal yang dibenci dan tidak disukainya.

Allah berfirman:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al- Anbiyaa:35)

Tentang ayat ini, Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan, kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaaan, dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan maksiat, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibni Jarir Ath Thabari IX/26 no. 24588)
Dalam riwayat lain darinya: “Kesenangan dan kesulitan merupakan cobaan. (Tafsir Ibni Jarir Ath Thabari IX/26 no. 24585)

Allah berfirman:
“Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; diantaranya ada orang-orang yang shalih dan diantaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buuk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raaf:168)

Ibnu Jarir rahimahullah berkata: “Kami menguji mereka dengan kemudahan dalam kehidupan dan kelapangan rizki. Ini yang dimaksud dengan kebaikan-kebaikan. Sedangkan yang buruk-buruk adalah kesempitan dalam hidup, kesulitan, musibah dan sedikitnya harta, agar mereka kembali, yaitu kembali taat kepada Rabbnya, agar kembali kepda Allah dan bertaubat dari perbuatan dosa dan maksiat yang mereka lakukan.” (Tafsir Ibni Jarir Ath Thabari VI/104)

HIKMAH DAN FAEDAH ADANYA PENYAKIT

Dari ayat-ayat diatas, kita tahu bahwa berbagai macam penyakit itu merupakan bagian dari cobaan-cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Bahwasanya cobaan merupakan sunnatullah yang telah ditetapkan berdasarkan rahmat dan hikmah-Nya.

Sesungguhnya Allah tidak menetapkan sesusatu, baik itu takdir kauni atau syar’i, melainkan di dalamnya terkandung kebaikan dan rahmat bagi hamba-Nya. Di dalamnya terkandung hikmah yang amat besar yang tidak mungkin bisa di nalar oleh akal manusia.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun akal kita sangat terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaiman sinar lampu yang sia-sia dibawah sinar matahari. Dan inipun hanya kira-kira, yang sebenarnya tentu lebih dari sekadar gambaran ini. (Syifaa-ul ‘Aliil fi Masaa-ilil Qadhaa’ wal Qadar wal Hikmah wa Ta’liil hal 452)

Berbagai cobaan, ujian, penderitaan, penyakit, kesulitan, dan kesengsaraan mempunyai manfaat dan hikmah yang sangat banyak. Diantaranya:

1. SABAR SEBAGAI KONSEKUENSI MENGHADAPI KESUSAHAN DAN KESULITAN.

Allah menciptakan makhlukNya untuk memberikan cobaan dan ujian, lalu menuntut konsekuensi kesenangan, yaitu bersyukur dan konsekuensi kesusahan, yaitu sabar. Hal ini tidak bisa terjadi kecuali jika Allah membalikkan berbagai keadaan manusia, sehingga peribadahan manusia kepada Allah menjadi jelas.

Jika seseorang benar-benar beriman, maka segala urusannya merupakan kebaikan. JIka mendapat kesenangan, maka ia bersyukur dan ketika susah, ia bersabar.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim no 2999 dari Shuhaib radhiyallahu anhu)

Banyak sekali dali-dalil yang menunjukkan bahwa musibah, penderitaan dan penyakit merupakan hal yang lazim bagi manusia, dan semua itu pasti menimpa mereka, untuk mewujudkan peribadahan kepada Allah. Allah berfirman:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila di timpa musibah, mereka mengucapkan Innaa lillaaahi wa inna ilaihi raaji’uun’, Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ketika menafsirkan surat Al Baqarah ayat 214: “Cobaan itu berupa penyakit, penderitaan, kesengsaraan, musibah dan bencana.”

2. MENGHAPUS DOSA DAN KESALAHAN.

Penyakit merupakan sebab pengampunan bagi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan (mulut) dan dengan seluruh anggota tubuh. Dan terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari suatu dosa yang pernah dilakukan seseorang, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuura:30)

Dicepatkannya hukuman bagi seorang mukmin di dunia justru baik baginya, sehingga dengan itu Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dan ia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan bersih dan selamat.

Hadits-hadits yang menjelaskan tentang pengampunan dosa karena adanya musibah dan penyakit diantaranya: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit atau sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya, seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Al Bukhari no 5660/ al Fath X/120 dan Muslim no 2571)

“Tidaklah seorang muslim di timpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanaan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari no 5641, dari sahabat abu hurairah dan abu said radhiyallahu anhum)

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa apa saja yang menimpa seorang mukmin dari kesedihan, kesusahan, atau penyakit, semuanya akan menghapuskan dosa-dosa seorang hamba.

“Bencana senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada kesalahan pada dirinya.” (HR. At Tirmidzi 2399, Ahmad II/450), al Hakim I/346, IV/314. At Tirmidzi berkata: “Hasan shahih”)

“Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguji hamba-Nya dengan penyakit, sehingga ia menghapuskan setiap dosa darinya.” (HR.al Hakim I/348 dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Syaikh al Albani berkata: Shahih)

3. DICATAT BERBAGAI KEBAIKAN DAN DERAJAT DITINGGIKAN

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
” Tidaklah seorang hamba ditimpa suatu musibah lalu mengucapkan: Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun, Allaahumma jurnii fii mushiibatii wa akhlif lii khairan minhaa – Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah aku ganjaran dalam musibahku ini, dan berikanlah ganti kepadaku dengan yang lebih baik darinya.- melainkan Allah memberikan pahala dalam musibahnya itu, dan menggantikan dengan yang lebih baik baginya.” (HR Muslim No. 918)

“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahann darinya.” (HR. Muslim no. 2572)

Boleh jadi seseorang mempunyai kedudukan yang agung disisi Allah, tetapi dia tidak mempunyai amal yang bisa mengantarkannya kepada kedudukan tersebut. Lalu Allah mengujinya dengan sesuatu yang tidak disukainya, sehingga diapun layak mendapatkan kedudukan itu dan sampai kepadanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya seseorang benar-benar memiliki kedudukan di sisi Allah, namun tidak ada satu amal yang bisa menghantarkannya ke sana. Maka Allah senantiasa mencobanya dengan sesuatu yang tidak disukainya, sehingga dia bisa sampai pada kedudukan yang dikehendaki Allah.” (HR. Abu Ya’la, Ibnu Hibban dan al Hakim I/344, ia berkata: ‘sanadnya Shahih’. Imam Al Haitsami berkata: ‘rawi-rawinya tsiqah’.)

4. JALAN MENUJU SURGA

Surga tidak bisa diperoleh melainkan dengan sesuatu yang tidak disukai jiwa manusia.

“Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai dan Neraka itu dikelilingi dengan berbagai macam syahwat.” (HR. Al Bukhari no 6487, Muslim IV/2174 no 2822, 2823, dan lafazh ini lafazh Muslim, dari Abu Hurairah)

Allah Subhanaahu wa ta’ala berfirman (dalam hadits qudsi):

“Tidaklah ada suatu balasan (yang lebih pantas) di sisiKu bagi hambaKu yang beriman, jika Aku telah mencabut nyawa kesayangannya dari penduduk dunia kemudian dia bersabar atas kehilangan orang kesayangannya itu melainkan Surga.” (HR. Al Bukhari dalam al Fath XI/242)

Dari Atha’, berkata kepadaku ibnu abbas radhiyallahu anhu: “Ada seorang wanita yang terkena penyakit ayan, dia minta di doakan oleh Nabi agar segera disembuhkan, kemudian Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Jika engkau mau, engkau bisa bersabar dan bagimu adalah surga. dan jika engkau mau, aku bisa berdoa kepada Allah agar memberikan kesembuhan kepadamu.” “Aku bersabar,” jawab wanita itu. Lalu, ia berkata lagi: “Sesungguhnya aibku itu tersingkap maka doakanlah kepada Allah bagiku agar aibku tidak tersingkap.” Maka, beliau berdoa bagi wanita itu.” (HR. al Bukhari no.5652, Muslim no.2576)

5. MEMBAWA KESELAMATAN DARI API NERAKA

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka.” (HR. Al Bazzar, shahih)

Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit demam, karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk orang yang sakit demam, lalu ia berkata: ” Tidak ada barakah padanya.” Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi.” (HR. Muslim no 2575)

6. MENGEMBALIKAN HAMBA KEPADA RABBNYA DAN MENGINGAT KELALAIANNYA.

Di antara faedah penyakit dan musibah-musibah ialah mengembalikan hamba yang tadinya ia jauh dan lalai dari mengingat Allah agar kembali kepadaNya. Kesadaran ini akan membuat dia berhenti dari perbuatan dosa dan maksiat yang biasa ia lakukan. Biasanya seorang apabila dalam keadaan sehat wal ‘afiat, ia suka tenggelam dalam perbuatan dosa dan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabbnya. Setan mempergunakan kesempatan ini untuk membuatnya lalai dan menyeretnya ke dalam kubangan syahwat dan kedurhakaan.

Karena itu jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, maka baru dia merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Rabbnya. Dia menjadi ingat kelengahannya sehingga ia kembali kepada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri.

Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (Rasul-rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (QS. Al-An’aam:42)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Musibah yang diterima karena Allah semata, lebih baik bagimu daripada nikmat yang membuat lupa mengingat-Nya.”

7. MENGINGAT NIKMAT ALLAH YANG LALU DAN YANG ADA

Berapa banyak nikmat yang diberikan Allah kepada kita dan berapa banyak malapetaka yang dihindarkan dari kita. Banyak nikmat yang kita lalaikan tatkala kita dalam keadaan sehat. Sebab kita tenggelam dalam kesenangan karena keberadaan nikmat itu, maka bencana yang menimpa bisa mengingatkan kita terhadap nikmatnya yang melimpah disekitar kita.

Berapa lama kita dalam keadaan sehat, kemudian kita mengingat nikmat yang ada pada kita. Berapa banyak nikmat yang dilimpahkan pada saat ini dan kita tidak di timpa penyakit seperti yang sudah-sudah.

8. MENGINGAT SAUDARA-SAUDARA KITA YANG SEDANG SAKIT.

Di antara hikmah Allah, Dia menimpakan cobaan berupa penyakit dan penderitaan kepada orang mukmin pada waktu-waktu tertentu, agar dia mengingat saudara-saudaranya yang sedang sakit, yang selama ini dia lalaikan tatkala dia dalam keadaan sehat.

Sehingga dengan begitu dia merasa terketuk untuk memenuhi hak-haknya, seperti mengunjunginya, membantu keperluannya, meringankan musibah yang menimpanya, menghiburnya, membantu mencarikan cara penyembuhannya, mendoakannya agar segera sehat
dan lain-lain.

9. MENYUCIKAN HATI DARI BERBAGAI MACAM PENYAKIT.

Keadaan yang sehat bisa mengundang seseorang untuk bersikap sombong, bangga dan takjub pada diri sendiri, sebab dalam keadaan seperti itu dia bebas berbuat apa saja dan beraktivitas. Namun jika penyakit sudah menguasainya dan penderitaan merundung dirinya maka jiwanya bisa menjadi lunak, hatinya menjadi lembut, sifat-sifat kurang baik seperti sombong, takabur, dengki dan membangga-banggakan diri bisa hilang darinya, lalu akhirnya dia tunduk dan pasrah kepada Allah serta dia akan tekun menuntuk ilmu syar’i, mengaji, sholat lima waktu berjamaah dan beribadah kepada-Nya.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: Hati dan ruh bisa mengambil manfaat dari penderitaan dan penyakti yang merupakan urusan yang tidak bisa dirasakan kecuali jika didalam ada kehidupan. Kebersihan hati dan ruh tergantung kepada penderitaan badan dan kesulitannya.(Tuhfatul Mariidh hal 25)

10. PENYAKIT MERUPAKAN NIKMAT DAN ANUGERAH

Karena cobaan dan ujian itu merupakan nikmat, maka orang-orang yang shalih justru gembira sekiranya mendapat cobaan itu, tak berbeda jika mereka mendapat kesenangan. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan bahwa cobaan para Nabi dan orang-orang shalih adalah penyakit, kemiskinan, dan lain-lainnya. Setelah itu Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dan sesungguhnya salah seorang diantara mereka benar-benar merasa gembira karena mendapat cobaan, sebagaimana salah seorang diantara kalian merasa gembira karena mendapatkan kelapangan.” (HR. Ibnu Majah No. 4024)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: